Gulir ke bawah
Blibli.com
iStyle ID
Shopee Indonesia
Shopee Indonesia
Bisnis

Wacana Kenaikan Pajak Harus Pertimbangkan Kondisi Sosial Masyarakat

93
×

Wacana Kenaikan Pajak Harus Pertimbangkan Kondisi Sosial Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Anetta Komarudin. Foto: Munchen/nr

WARTA-1 – Awal tahun 2024 wacana kenaikan beberapa jenis pajak mulai dari pajak hiburan hingga pajak kendaraan bermotor mengemuka.

Tahun 2024 juga menjadi target awal pemerintah untuk menerapkan cukai kemasan plastik dan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Menanggapi hal itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Anetta Komarudin angkat bicara.

Gulir ke Bawah
Blibli.com
Selamat Membaca

“Jadi nanti akan di agendakan rapat Komisi XI bersama Menteri Keuangan untuk membahas isu-isu terkait termasuk Cukai Minuman berpemanis, terkait dengan kenaikan untuk pajak kendaraan berbahan bakar minyak ini,” kata Puteri beberapa hari lalu.

Puteri memahami, kenaikan pajak kendaraan bermotor dapat mendukung transisi energi hijau yang ramah lingkungan, selaras dengan upaya pemerintah memberikan berbagai insentif pembebasan pajak untuk kendaraan yang berbasis listrik.

Namun, ia mengingatkan hal tersebut harus mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. 

“Sementara ini kan kita tahu bahwa pajak tersebut pasti akan dimaksudkan dalam rangka kita menuju transisi energi yang lebih hijau, yang lebih ramah lingkungan. Tapi yang seperti kita tahu juga kondisi ekonomi yang sekarang di mana masyarakat masih dihadapi ketidakpastian. Banyak juga pabrik-pabrik yang akhirnya tutup dan mem-PHK pegawainya dan ini harus kita pertimbangkan dalam penghitungan terkait dengan kenaikan pajak ini,” lanjutnya.

Ia tidak mau terburu-buru mengambil kesimpulan atas wacana tersebut. Menurutnya, harus ada pembahasan lanjut dengan Kementerian Keuangan terkait dengan dampak positif kepada penerimaan negara sekaligus dampak bagi masyarakat.

“Kita pasti harus mendengar dulu ya, maksudnya dampak dari kenaikan pajak ini pasti ada efek yang positif terhadap penerimaan negaranya tapi juga harus dihitung juga bagaimana kenaikan pajak ini nantinya bisa berdampak pada sektor usaha yang luas begitu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia lalu menyoroti efek lanjutan dari adanya kenaikan pajak. Puteri lantas mencontohkan apakah hal tersebut akan berdampak pada kenaikan dalam bahan pokok lainnya.

Ia menegaskan, jangan sampai kenaikan pajak untuk kendaraan bermotor berbasis BBM malah bisa mempersulit masyarakat terutama bagi mereka yang belum pulih secara total sejak pandemi Covid-19.

“Jadi jangan sampai kenaikan pajak ini justru menimbulkan masalah sosial yang lainnya ke depannya. Jadi ya nanti ini akan menjadi salah satu hal yang kita bahas bersama Kementerian Keuangan juga,” tegasnya.

Wacana kenaikan pajak kendaraan bermotor ramai dibahas setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan kenaikan tarif pajak progresif untuk orang yang memiliki lebih dari 1 kendaraan, khususnya untuk kendaraan pada jenis/jumlah roda yang sama. 

Melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah tercantum tarif pajak kendaraan kedua menjadi 3% yang semula 2,5%, tarif pajak kendaraan ketiga dari semula 3% menjadi 4%. Untuk tarif pajak kendaraan pertama terpantau tidak ada perubahan dan masih tetap di angka 2%.

Wacana kenaikan pajak lainnya yang cukup menimbulkan polemik di awal tahun adalah Pajak Hiburan yang ditengarai akan naik dari 25% menjadi 40%-75%. Ketentuan tersebut berdasarkan pada Pasal 58 UU HKPD poin (I) yang ditujukan untuk diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa. 

Selain wacana kenaikan pajak, di tahun 2024 ini Pemerintah juga ditargetkan untuk segera mengaplikasikan kebijakan Cukai Kemasan Plastik dan Cukai Minuman Berpemanis. Pengaplikasian dua cukai baru ini tertahan sejak tahun 2023 dan kembali masuk dalam target penerimaan negara pada APBN 2024. (dpr)

I Love Wallpaper Store