Gulir ke bawah
Blibli.com
iStyle ID
Shopee Indonesia
Shopee Indonesia
Daerah

Dinkes dan Bapelitbangda Gelar Rakor Sikapi Kasus Sunting

195
×

Dinkes dan Bapelitbangda Gelar Rakor Sikapi Kasus Sunting

Sebarkan artikel ini

WARTA-1 – Menyikapi tingginya kasus sunting di Pasaman Barat, Selasa (23/1) Tim Dinkes (Dinas Kesehatan) Pasaman Barat bersama Tim Teknis Bapelitbangda setempat, laksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) di Auditorium Kantor Bupati Simpang Empat.

Rakor terpadu dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemda Pasaman Barat itu, dilakukan secara daring dan luring dimaksud. Digelarnya rakor tersebut, juga dalam rangka persiapan Bulan Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan Balita Februari 2024 tingkat Kabupaten Pasaman Barat.

Gulir ke Bawah
Blibli.com
Selamat Membaca

Kepala Dinkes Pasaman Barat diwakili Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dewi Indriani Djusair, menjelaskan, Rakor itu, dihadiri Koordinator Tenaga Pengelola Gizi dan Tenaga Promkes Puskesmas. Sedangkan peserta daring adalah camat, kepala puskesmas, wali nagari (kepala desa), ketua Bamus, kepala jorong (ketua RT) dan bidan desa.

Berdasarkan publikasi data stunting, bersumber dari e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi berbasis Masyarakat), Agustus 2023 lalu, angka prevalensi Pasaman Barat berada pada angka 14,3 persen. Jumlah anak stunting sebanyak 4.764 balita dari 33.261 balita yang ada.

“Kecamatan Sasak Ranah Pasisie merupakan kecamatan dengan angka prevalensi tertinggi sebesar 26,5 persen, dan yang terendah adalah kecamatan Kinali sebesar 10,1 persen. Tentunya, angka ini perlu untuk terus diturunkan sampai titik terendah, maksimal sesuai target RPJMD pada angka 14,0 persen tahun 2024 ini,” terang Kabid Kesmas Dinkes Pasaman Barat.

Sementara itu Bappelitbangda telah menyandingkan data anak stunting dengan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) tahun 2022. Dari data tersebut ditemukan sebesar 18,70 persen (1.006 / 5.397 balita).

“Artinya, tidak semua anak stunting berasal dari keluarga miskin, namun semakin rendah status sosial masyarakat semakin besar resiko melahirkan anak stunting,”urainya.

Ia menjelaskan, untuk Pasaman Barat, yang berada di desil 1(kemiskinan ekstrem) sebanyak 192 balita. Dari jumlah tersebut, terdapat 38 balita stunting yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Selanjutnya ada 133 balita tidak memiliki fasilitas buang air besar, 115 anak tidak memiliki akses air minum layak, 61 balita tinggal di rumah yang tidak memiliki penerangan PLN, dan 79 balita tinggal bersama orang tua yang masih memasak menggunakan arang atau kayu atau minyak tanah.

Sebelumnya diketahui, pemerintah daerah telah mengadvokasi kebijakan penanggulangan kemiskinan, percepatan penurunan stunting dan percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem ke perusahaan.  Dan hasilnya, mendapatkan bantuan sebesar Rp 101.308.000 untuk empat penerima manfaat. (gmz)

I Love Wallpaper Store