Gulir ke bawah
Blibli.com
iStyle ID
Shopee Indonesia
Shopee Indonesia
Daerah

Bantang Lapiak, Bincang Budaya yang Dikemas Komunitas Pasaman Boekoe

2158
×

Bantang Lapiak, Bincang Budaya yang Dikemas Komunitas Pasaman Boekoe

Sebarkan artikel ini

PASAMAN BARAT – Minggu (14/1) kemarin, ruang pertemuan Museum Tuanku Imam Bonjol (Pasaman) ramai pengunjung. Mereka  adalah pengelola komunitas, sanggar, dan kelompok seni budaya se-Kabupaten Pasaman.

Kehadiran mereka sengaja datang memenuhi undangan Komunitas Pasaman Boekoe menghadiri acara Bantang Lapiak. Sebuah acara bincang budaya dengan tema besar untuk tahun 2024 , Konsolidasi Pemahaman Upaya Ketahanan Budaya. Peserta dan pembicara duduk sehamparan di atas tikar lantai museum satu-satunya yang ada di kabupaten Pasaman.

Gulir ke Bawah
Blibli.com
Selamat Membaca

“Ini cara kami mengambil peran dalam upaya ketahanan budaya. Satu program di bidang kajian yang ada di komunitas kami” jelas Arbi Tanjung, pendiri sekaligus pimpinan komunitas yang berdiri sejak tahun 2020.

Arbi menjelaskan, Bantang Lapiak merupakan kegiatan rutin tiap pertengahan bulan. Mengusung sub-tema yang berbeda tiap bulannya. “Hari ini edisi perdana, mengangkat sub-tema”menyigi hubungan antara aktivitas komunitas, sanggar, dan kelompok seni budaya dengan upaya ketahanan budaya di Pasaman,” ungkap Arbi.

Di tengah peserta tampak hadir Jafar, kepala Bidang Kebudayaan Disparporabud Kabupaten Pasaman. “Kami mewakili pemerintah daerah hadir mengambil peran sebagai mitra masyarakat dalam rangka kerja-kerja upaya ketahanan budaya. Memang itu tugas utama kami” jelas Jafar dalam sambutannya.

“Bung Arbi datang kepada kami menyampaikan rencana kegiatan ini pada awal tahun. Kami sahut dengan tegas, kami siap membantu fasilitasi, tempat, snack, dan pengeras suara,” sambungnya.

Ia menjelaskan, “Disayangkan, andai saja bung Arbi datang lebih awal, sekitar bulan Oktober atau November 2023 lalu. Maka Bantang Lapiak tentu akan menjadi bagian kegiatan prioritas dalam anggaran 2024.”

Selain Jafar, acara tersebut juga dihadiri Yayat Wahyudi, S.T, M.Si, sekretaris  mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Dalam sambutannya, Yayat menyebut, upaya semacam ini segaris lurus dengan upaya pemerintah provinsi Sumatera Barat yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan.

“Benar dan tepat sekali, kegiatan ini merupakan langkah pertama yang meski dilakukan pemerintah daerah dan masyarakatnya yakni mengkonsolidasikan pemahaman apa itu ketahanan budaya,” lanjut Yayat.

Sebagai teman bincang untuk membahas sub-tema kali ini, selain Arbi Tanjung, tampil Undri, M.Si, kepala Balai Pelesetarian Kebudayaan wilayah 3 Sumatera Barat.

“Sebagaimana amanah UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pemerintah dan masyarakat punya peran dan tanggung jawab masing-masing,” sebutnya.

Undri memaparkan, ada empat kegiatan utama pemajuan kebudayaan yakin pelestarian, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan. Pemerintah punya peran dan tanggung jawab pada kegiatan pelestarian dan pembinaan, sedangkan masyarakat, dalam hal ini termasuk komunitas, sanggar, dan kelompok seni budaya, berperan besar dalam hal pengembangan dan pemanfaatan.

“Pertanyaannya, dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan oleh komunitas. Kegiatan seperti apa yang sengaja dilakukannya sebagai bentuk upaya ketahanan budaya? Jangan-jangan seluruh kegiatan yang telah diperbuat di komunitas, tak terkoneksi dengan upaya ketahanan budaya bagi kampung dan nagari tempat komunitas berkegiatan,” ungkapnya.

Undri juga menyebutkan, persoalan terbesar di satu daerah yaitu ketidakadaan database komunitas dan pelaku seni budaya. Akibatnya pemerintah daerah kerepotan saat dituntut untuk merumuskan program prioritas untuk bidang kebudayaan.

Sementara itu Ichsan Efriananda sebagai moderator Bantang Lapiak, memberi kesempatan kepada seluruh yang hadir untuk menanggapi pantikan diskusi dari kedua pembicara atau teman bincang.

Dari delapan penanggap yang dibagi dalam dua sesi tanya jawab, terdapat tiga hal umum yang dirasakan oleh pengelola komunitas yaitu peran pemerintah yang minim apresiasi atas keberadaan komunitas. Mereka menyebut, selama ini tidak ada ruang dialog untuk saling berbagi dan terbuka antara sesama pelaku atau dengan pemerintah seperti acara Bantang Lapiak.

Hal itu memicu belum adanya kesepahaman gerak yang harus dilakukan  dalam upaya ketahanan budaya di Pasaman.

Dalam diskusi yang cukup hangat dengan suasana kekeluargaan,silang pendapat dan pandangan antara sesama peserta atau dengan teman bincang, membuat suasana diskusi jadi hidup dan mengalir. (Denni/Ed. NI)

I Love Wallpaper Store