Gulir ke bawah
Nasional

Calon Komisioner KPI Terpilih Hadapi Tantangan Besar

154
×

Calon Komisioner KPI Terpilih Hadapi Tantangan Besar

Sebarkan artikel ini

WARTA-1 – Komisi I telah menyepakati sebanyak sembilan calon komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2022-2025.

Kesembilan calon yang dipilih sebelumnya selama dua hari telah menjalani fit and proper test yang digelar pada pekan sebelumnya. Rapat pengambilan keputusan tingkat I terhadap calon anggota KPI Pusat ini digelar secara tertutup dan secara musyawarah mufakat.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca

”Alhamdulillah Komisi I sudah melakukan fit and proper test, dan sudah mengambil keputusan secara musyawarah mufakat. Karena memang dalam tatib (tata tertib) juga prioritas utama adalah musyawarah dan mufakat, dan kalau tidak tercapai barulah diputuskan voting,” ujar Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid usai memimpin rapat di Gedung Nusantara II, Jakarta, Selasa, (24/1) kemarin.

“Dan alhamdulillah, kita sudah memutuskan secara musyawarah mufakat memutuskan 9 calon komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat periode 2022-2025,” imbuhnya.

Meutya berharap, sembilan calon komisioner KPI pusat ini nantinya dapat bekerja dengan baik dengan menjaga integritas dan profesionalitasnya. Apalagi mengingat saat ini sudah memasuki tahun politik, Meutya menilai tugas kesembilan calon komisioner ini akan sangat berat.

”Tentu kita titipkan kepada sembilan calon komisioner yang terpilih untuk menjaga netralitas penyiaran. Dan banyak yang dititipkan kepada kami juga mengenai tentang kekerasan seksual supaya bagaimana kampanye di TV tidak justru malah mendorong terjadinya kekerasan seksual,” jelasnya.

Terkhusus mengenai isu eksploitasi perempuan di televisi, hal ini juga menurutnya menjadi tantangan besar bagi kesembilan calon komisioner ini.

”Di luar itu juga mereka punya tantangan baru, digitalisasi penyiaran. Jadi, tantangan KPI yang sekarang, periode ini, yang sebelum-sebelumnya belum ada adalah bagaimana menjadi komisioner setelah adanya digitalisasi penyiaran. Konten akan lebih banyak, kemudian tayangan akan semakin beragam, pengawasannya pasti perlu tenaga ekstra dan juga kemampuan ekstra,” tutupnya. (parlementaria/foto: Runi/nri)