Minggu, Maret 26Selamat Datang di Media Warta-1, Selamat Membaca

Lato-lato dan Suhu Politik yang Kian Menghangat di Daerah

WARTA-1 – Permainan lato-lato kini banyak digandrungi berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa di Indonesia.

Meski kini tengah menjadi tren di Indonesia, namun ternyata permainan itu sudah dimainkan sejak periode 1960an. Permainan sederhana dengan menggoyangkan dua bola yang diikat dengan tali supaya saling berbenturan itu, melansir Quartz berasal dari Amerika Serikat.

Di negara asalnya permainan tersebut bernama clackers, click-clacks, atau knockers. Pada awal ’70-an, ratusan pembuat mainan telah menjual jutaan clackers di seluruh dunia. Pada periode itu, clackers sangat populer sehingga permainan itu menjangkau penduduk sebuah provinsi kecil di Italia utara bernama Calcinatello.

Awalnya clackers terbuat dari kayu atau logam. Kemudian setelah itu dibuat dari tempered glass. Namun serpihan pecahan dari bahan tempered glass dianggap berbahaya bagi orang yang memainkannya. Pada 1966, Food and Drug Administration, lembaga yang awalnya juga mengatur keamanan mainan di Amerika Serikat juga sempat mengeluarkan peringatan terkait bahaya clackers.

Clackers akhirnya dilarang karena dianggap mengandung bahan kimia maupun radioaktif serta mudah terbakar. Tiga tahun kemudian, kewenangan tersebut diperluas, yakni dengan melarang penjualan mainan clackers di pasaran.

Baca Juga:  Tindaklanjuti Press Release, Delapan Fraksi DPR Tolak Sistem Pemilu Tertutup

Kita mungkin tidak ingin membicarakan lato-lato secara mendalam, cukuplah sebagai hantaran bahwa permainan lato-lato kini viral di negeri ini. Namun demikian, viralnya lato-lato tidak membungkam masyarakat untuk berbicara tentang nasib bangsa dan daerah menuju Pilpres, Pileg, dan Pilkada yang sebentar lagi akan dihelat besar-besaran di seantero Nusantara.

Ya, tahun 2024 adalah saat bangsa ini menghelat pesta demokrasi akbar. Akan ada perubahan besar bagi negara ini dengan adanya kepemimpinan baru di berbagai lini. Ada Presiden baru, ada anggota DPR dan DPRD baru, ada pula Kepala Daerah baru. Wajah negeri ini akan serba baru, tren kebaruan itu dipastikan akan mengubah wajah negeri ini secara nasional lima tahun berikutnya.

Menuju tahun perubahan itu, semua warga diminta untuk tidak terpecah mengikuti arus emosi dukungan pada tiap-tiap jenis pemilu tersebut. Anggaplah pemilu itu sebagai pesta rakyat yang pantas kita nikmati, bukan untuk dijadikan ajang mengedepankan emosional yang tidak penting. Yang perlu kita pikirkan, kita akan melihat negeri-negeri yang ada di seluruh Indonesia memiliki paradigma baru dengan kepemimpinan baru, meninggalkan paradigma lama yang hanya dibuat kenyang dengan janji-janji kampanye semata.

Baca Juga:  Anies Baswedan Resmi Didukung Partai Ummat

Lalu apa hubungan semua itu dengan lato-lato, permainan anak yang kini digandrungi bahkan oleh orang dewasa tersebut? Lato-lato, seperti nama aslinya, clackers, click-clacks, atau knockers, adalah permainan dengan membenturkan dua benda dalam gerak berlawanan yang kemudian menimbulkan bunyi, dan dimainkan dengan kecepatan tertentu.

Lato-lato bisa dimaknai dengan gambaran filosofi adu domba dan konfrontasi. Permainan itu dimainkan dengan membenturkan dua pihak yang berlawanan posisinya, ibarat membenturkan dua eksistensi yang ada di tengah masyarakat.

Bila dimaknai lebih dalam, menuju tahun politik dengan Pilpres, Pileg dan Pilkada yang akan dilalui oleh seluruh warga negara ini, momen bagi para pemain politik dalam membenturkan kepentingan masyarakat akan sangat mudah terlihat. Mereka akan memainkan peran seolah sebagai penghibur dan memberi pencerahan, namun di balik itu ada potensi permainan mengadu domba masyarakat agar mudah dikendalikan, diarahkan sesuai kemauan dan kepentingan mereka.

Baca Juga:  Dewan Pembina Perludem Sebut Masa Kampanye Pemilu 2024 Dinilai Terlalu Singkat

Sebagai masyarakt cerdas, tentunya filosofi permainan lato-lato tersebut harus dapat dicermati sejak awal. Tahun politik akan diikuti dengan menghangatnya suhu politik di segala sisi, segala lini. Karena itu, menghindari berita bohong, tidak mudah percaya pada informasi sepihak, akan menjadi cara yang tepat agar tidak terjebak pada situasi yang dapat saja memburuk.

Jangan mudah terpancing hanya karena informasi yang beredar di media-media sosial, tabayyun untuk melihat fakta akan lebih baik. Ikuti informasi yang benar-benar dapat dipercaya, dan kuasai literasi teknologi informasi dengan baik.

Kondusifitas masyarakat, harusnya terjaga dengan baik di tengah suhu politik yang kian meningkat menuju helat akbar bangsa ini. Bersama-sama secara gotong-royong untuk menangkal semua keburukan dan kemungkinan yang dapat merusak tatanan masyarakat, harus diupyakan.

Penulis: Nova Indra (CEO P3SDM Melati, Penulis, Wartawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *