Gulir ke bawah
Blibli.com
iStyle ID
Shopee Indonesia
Shopee Indonesia
Peristiwa

Melihat Tradisi ‘Slametan’ Peringatan Kematian di Sengare

163
×

Melihat Tradisi ‘Slametan’ Peringatan Kematian di Sengare

Sebarkan artikel ini

WARTA-1 – Indonesia sangat kaya dengan budaya dan tradisi. Masing-masing daerah, selalu memunculkan ciri khas tradisinya sebagai bentuk pelestarian warisan nenek moyang.

Tradisi ‘slametan’ peringatan kematian dalam tradisi masyarakat Jawa. (Foto: Pribadi)

Salah satunya adalah tradisi slametan peringatan kematian di masyarakat Jawa yang sangat khas dan berbeda dengan daerha lain di Nusantara.

Gulir ke Bawah
Blibli.com
Selamat Membaca

“Iya, ini tradisi yang ada dalam masyarakat Jawa saat memperingati kematian orangtua. Seperti yang kami lakukan saat ini, slametan satu tahun wafatnya kedua orang tua kami,” demikian ujar Nurtrianik, warga Desa Sengare Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan kepada media Warta-1, Jumat (8/7).

Menurut perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar di daerah sentra batik itu, tradisi slametan merupakan bentuk kasih sayang anak-anak kepada mendiang orang tua.

“Setiap acara slametan yang digelar masyarakat, akan dibarengi dengan proses mengundang sejumlah masyarakat, termasuk tokoh, para santri, kyai, dan warga sekitar. Ada pengajiannya, ada acara berdoanya,” sambungnya di sela-sela slametan tersebut.

Tradisi ‘slametan’ peringatan kematian dalam tradisi masyarakat Jawa. (Foto: Pribadi)

Sambungnya lagi, tradisi slametan merupakan sesuatu yang perlu dilestarikan selagi sesuai dengan tuntunan yang ada. “Asal tidak memberatkan ahli waris, dan harus sesuai dengan tuntunan. Tentunya perlu dilestarikan,” imbuh perempuan yang juga penulis buku-buku pendidikan tersebut.

Tradisi slametan yang hingga kini tetap dilakukan oleh masyarakat Jawa, merupakan tradisi turun-temurun yang merupakan percampuran pemahaman agama dan budaya lokal.

Tradisi slametan memperingati kematian ini, biasanya dimulai dari hari saat almarhum atau almarhumah meninggal, dilanjutkan pada hari ketiga dengan istilah nelungdino.

Selanjutnya, slametan kematian juga dilakukan pada hari ketujuh (mitungdino). Dan pada hari keempat puluh juga dilakukan slametan yang sama dengan istilah petang puloh.  

Sementara untuk peringatan kematian 100 hari, dikenal dengan istilah nyatus. Dan dilanjutkan dengan mendak pisan, yaitu peringatan kematian satu tahun.

Tidak berhenti di satu tahun itu saja, slametan kematian pada tradisi masyarakat Jawa juga dilakukan pada tahun kedua dengan istilah mendak pindo. Lalu diakhiri dengan peringatan nyewu (seribu hari).

“Nah, bagi ahli waris yang sanggup dan memiliki kecukupan, peringatan kematian bisa dilakukan setiap tahun setelahnya. Jadi tidak harus berhenti di 1000 hari itu saja,” terang Nurtrianik. (*/ni)

I Love Wallpaper Store