Gulir ke bawah
Bisnis

Transaksi Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Tembus USD124 Miliar

310
×

Transaksi Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Tembus USD124 Miliar

Sebarkan artikel ini
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Perekonomian (Foto:@Kemenko Perekonomian)

WARTA-1 – Aktivitas ekonomi digital Indonesia diprediksi mencapai USD 124 miliar setara Rp 1.756 triliun di 2025. Pada 2020, 41,9 persen total transaksi ekonomi digital ASEAN berasal dari Indonesia yang mencapai USD 44 miliar setara Rp 623 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan jika teknologi digital digunakan dalam berbagai sektor ekonomi dan bisnis.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca

Seperti fintech, e-commerce, layanan kesehatan/pendidikan/transportasi online, maupun Internet of Things (IoT). Khusus untuk layanan kesehatan dan pendidikan diprediksi akan menjadi sangat besar kontribusinya dalam ekonomi digital ke depannya.

“Namun, untuk sekarang, e-commerce adalah sektor utama yang mendukung ekonomi digital di Indonesia. Sebanyak 72,73 persen dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia berasal dari e-commerce. Pada 2020, nilai e-commerce mencapai USD 32 miliar, dan diproyeksikan akan mencapai USD 83 miliar di 2025,” jelas Airlangga.

Ia menuturkan jika aktivitas ekonomi digital di Indonesia terus meningkat. Bahkan 41,9 persen total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 berasal dari Indonesia yang mencapai USD 44 miliar, dan di 2025 diproyeksikan mencapai USD 124 miliar.

Ini dia katakan dalam acara The 1st International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHSS) 2021.

Kegiatan tersebut diselenggarakan President University secara virtual pada Selasa (26/10) dengan mengambil tema “The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0”.

Airlangga menilai pengendalian pandemi Covid-19 yang dilakukan Pemerintah melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah menunjukkan keberhasilan.

Hal ini terlihat dari jumlah kasus harian pada 24 Oktober 2021 yang jauh lebih rendah daripada negara lain, di mana hanya terdapat 2,72 kasus per 1 juta penduduk.

Angka Reproduction Rate (Rt) pada 22 Oktober 2021 yang sebesar 0,71 menjadi angka Rt yang relatif lebih rendah dibandingkan negara lainnya dan dalam kategori terkendali.

Penurunan Angka Rt hingga di bawah 1 atau di kisaran 1 menandakan adanya penurunan angka infeksi di komunitas sekaligus memperlihatkan pandemi mulai terkendali.

Dengan keberhasilan mengatasi peningkatan kasus baru dalam dua bulan terakhir ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2021 akan dapat menyusul angka pertumbuhan di triwulan sebelumnya.

Pada Triwulan II-2021 yang lalu, perekonomian Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage yakni mencapai 7,07 persen (yoy).

Pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut juga didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi karena terjadi pergeseran perilaku masyarakat ke arah ekonomi digital, terutama di masa pandemi yang mengharuskan masyarakat membatasi kegiatannya di luar rumah.

Situasi ini menjadi peluang untuk akselerasi transformasi digital di berbagai sektor ekonomi yang akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. (sumber: liputan6)