Gulir ke bawah
Tekno

Gandeng Pemerintah Desa, P4TK IPA Garap Kampung Sains

487
×

Gandeng Pemerintah Desa, P4TK IPA Garap Kampung Sains

Sebarkan artikel ini

Warta-1 – Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (P4TK IPA), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), tengah menggarap kampung sains di beberapa desa di Jawa Barat.

Ilustrasi. Anak bermain dan belajar bersama. Antara Foto

Pengembangan kampung sains di tingkat desa ini untuk membangkitkan minat sains di kalangan generasi muda dengan cara eduwisata.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca

Pihak Kemendikbudristek mengembangkan kampung sains ini dengan menggandeng pemerintah daerah, terutama Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan para guru penggerak bidang sains yang sudah dilatih.

Dari kolaborasi pemerintah pusat, daerah, guru, dan masyarakat setempat inilah dibuat suatu miniatur namanya taman sains. Taman sains akan bergulir menjadi taman sekolah, targetnya pada 2021 sudah ada empat kampung yang berbasis sains di Sumedang, Garut, Ciamis, dan Purwakarta, Jawa Barat.

Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) bakal dilibatkan dalam konsep pengembangan kampung sains ini. Diharapkan dari model ini berkembang inovasi yang memiliki daya ungkit ekonomi dari tumbuhnya minat sains di kalangan masyarakat akar rumput.

Setidaknya penerapan kampung sains itu mampu membentuk sebuah pola pikir dari jenjang anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat umum agar tidak terjebak dalam pola bias informasi di era teknologi informasi saat ini.

Fungsi program di kampung sains agar masyarakat yang selalu mengamati, memperhatikan, mencoba, kemudian dapat meningkat menjadi menganalisis, kritis, dan berinovasi.

Tantangan pendidikan di Indonesia bukan sekadar tingkat partisipasi sekolah serta pemerataan akses bagi para kelompok pendidikan dasar hingga tinggi, melainkan juga rendahnya minat sains.

Merujuk pada Programme for International Student Assesment (PISA) 2020, skor Indonesia pada sains 396, sedangkan rata-rata di dunia itu adalah 489.

Oleh karena itu, pihak P4TK IPA Kemendikbudristek tertarik dengan visinya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang Science For All (SFA). Mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan bisa kontekstual dengan lingkungan.

Artinya, masalah sains itu bisa mengatasi masalah kehidupan di daerah, terutama di kampung-kampung.

“Kami di awal pandemi, sejatinya ingin langsung bergerak. Namun ada sedikit hambatan, dan baru kemarin kami mulai fokus dengan tim, bagaimana membangun minat sains di masyarakat,” kata Kepala P4TK IPA, Enang Ahmadi kepada ratusan guru IPA tingkat SD, SMP, SMA dalam rangka Science For All Provinsi Banten di Pusdiklat, Puspiptek, Serpong, pertengahan Juni lalu.

Ke depan, nantinya kampung sains tersebut bergulir sebagai sebuah eduwisata, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Desa, BUMDes setempat, dan masyarakat terutama para guru penggerak bidang sains.

Konsepnya sinergi agar anak-anak murid bisa belajar di luar sekolah dengan gembira. Para guru penggerak sebagai pembina ekskul dan dindik bisa membuat kegiatan di kampung sains pada akhir pekan.

Program yang dirancang di kampung sains, selain mengenali sains, juga menggiring anak didik membuat inovasi. Misalnya, mengenal jenis-jenis lebah, cara hidupnya, khasiat dari madu lebah serta cara mengelola budidaya lebah sampai dijual menjadi sebuah produk.  (indonesiagoid)