Gulir ke bawah
Kuliner

Tempe Sumber Protein Tinggi dan Ramah Lingkungan

630
×

Tempe Sumber Protein Tinggi dan Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini

Warta-1 – Tempe termasuk salah satu makanan khas Indonesia yang banyak digemari dan bisa dibuat dengan beragam kreasi.

ilustrasi tempe. (SHUTTERSTOCK/Ika Rahma H)

Bertepatan dengan Hari Tempe Nasional yang dirayakan setiap 6 Juni kemarin, banyak pihak yang berbondong-bondong menyuarakan tentang segudang manfaat mengkonsumsi tempe.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca

Makanan yang umumnya dibuat dari kacang kedelai ini disebut-sebut sebagai makanan superior dan sumber protein masa depan. Dari segi kesehatan, tempe memiliki segudang manfaat baik untuk tubuh.

Tempe merupakan makanan dengan sumber protein nabati yang tinggi dan tak kalah jauh bila dibandingkan dengan daging. Setiap 100 gram tempe mengandung 150 kalori, 14 gram protein, 7,7 gram lemak, 9,1 karbohidrat, 1,4 gram serat, 517 miligram kalsium, 7 gram natrium, 202 miligram fosfor, dan vitamin B12.

“Jumlah protein dalam kedelai memang masih di bawah protein pada daging, namun kita harus melihat kandungan-kandungan lain yang ada pada tempe. Konsumsi daging merah berkelanjutan bisa menimbulkan kanker kolon. Di sisi lain, tidak ada penelitian yang menunjukkan konsumsi jangka panjang tempe dapat menimbulkan dampak negatif,” kata ahli pangan, Dr. Driando Ahnan Winardo dalam sesi diskusi tentang tempe melalui akun Instagram @tempemovement, Minggu, 6 Juni 2021.

Tempe juga mengandung isoflavon yang berfungsi dalam pencegahan inflamasi atau akar dari timbulnya masalah-masalah kronis pada tubuh seperti kanker, kista, diabetes, stroke, alzheimer, osteoporosis, serta beberapa penyakit lainnya.

Proses fermentasi pada tempe dapat merangsang pertumbuhan bakteri baik, membantu penyerapan nutrisi makanan lebih cepat, membuang racun dalam tubuh, serta mendukung kekebalan tubuh. 

Selain itu, konsumsi tempe juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Protein nabati yang dihasilkan dari tumbuhan jauh lebih efesien dibandingkan protein yang dihasilkan dari hewan.

“Kalau bergantung pada protein hewani, sama saja kita membuat populasi hewan tersebut semakin berkurang. Sedangkan, tumbuhan yang menyediakan sumber protein nabati sangat banyak dan mudah untuk ditanam,” jelas Dr. Driando.

Proses produksi tempe ternyata 20 kali lipat lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan proses produksi protein jenis lain. Emisi yang dihasilkan oleh pembuatan tempe juga empat kali lipat lebih efesien dibandingkan dengan proses produksi makanan yang mengandung protein hewani. (sumber: liputan6)