Gulir ke bawah
Bisnis

Ketika Limbah Cangkang Telur Disulap Jadi Ubin Dinding Bernilai Tinggi

401
×

Ketika Limbah Cangkang Telur Disulap Jadi Ubin Dinding Bernilai Tinggi

Sebarkan artikel ini

Warta-1 – Banyak cara bisa dilakukan setiap orang untuk membumikan gaya hidup ramah lingkungan.

Salah satunya disumbang Elaine Yan Ling Ng. Perempuan yang berprofesi sebagai desainer tekstil berdarah Inggris-China itu memanfaatkan limbah cangkang telur sebagai ubin dinding.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca
Proses mempersiapkan kulit telur untuk dipanggang dan menjadi ubin dinding. (dok. Instagram @nature_squared / https://www.instagram.com/p/CJ_Fa5bhRG_/?utm_medium=copy_link / Dinda Rizky)

Ubin yang dinamai CArrelé ini telah menjadi produk ramah lingkungan yang dibuat tangan dan jadi yang pertama di dunia. Dilansir dari Wonderland Magazine, Selasa, 1 Juni 2021, pembuatan ubin dinding ini berawal dari eksperimen menggunakan cangkang telur yang disaksikan oleh Elaine.

Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa cangkang telur dapat dimanfaatkan untuk menambal gigi dan membantu proses regenerasi pada tulang yang telah rusak. Ia pun tertarik untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan memanfaatkan cangkang telur.

Setiap tahunnya, Inggris menghasilkan 250 ribu ton limbah kulit telur. Hal tersebut mendorong Elaine mencari cara untuk menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Ketertarikan Elaine semakin besar dan memutuskan untuk berkolaborasi dengan Nature Squared, merek desain yang mengusung produk berkelanjutan untuk menciptakan ubin dinding dari kulit telur.

“Ini sebenarnya skema berkelanjutan yang direncanakan dengan hati-hati dan CArrelé, ubin yang terbuat dari kulit telur merupakan bahan pertama yang kami tangani,” ujar Elaine.

“Kami pikir kulit telur akan menjadi titik awal yang baik, karena ini adalah siklus yang dapat mempengaruhi banyak orang. Biasanya, limbah kulit telur digunakan dalam seni tatahan. Namun hingga saat ini, masih ada 250.000 ton limbah kulit telur yang berakhir di TPA, jadi saya kira itulah yang membuat kami tergerak,” sambungnya.

Elaine menggunakan keahliannya sebagai seorang pengrajin untuk mengubah sejumlah limbah cangkang telur ayam menjadi ubin dengan ukuran yang sangat luas. Cangkang telur yang digunakan untuk membuat CArrelé berasal dari limbah yang telah dibuang oleh toko roti.

CArrelé telah dirancang agar dapat tahan lama dan juga tahan terhadap sinar UV alami. Selain itu, bahan putih kapur yang ada di ubin tersebut juga aman untuk digunakan dan mudah dibersihkan. Struktur dan bentuknya pun terjaga karena telah terikat dengan bahan pengikat dan juga resin.

CArrelé juga melewati serangkaian proses pengolahan yang dilakukan secara manual. Pengolahan tersebut membuat ubin tersebut menjadi lebih eksklusif. Tak hanya sekadar menciptakan sesuatu yang fungsional, Elaine juga menciptakan ubin dinding yang memiliki nilai estetika.

“Melalui CArrelé, saya harus menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar ubin dinding. Saya harus menciptakan sesuatu yang fungsional, namun tetap indah secara estetika dan ramah lingkungan,” tutur Elaine.

Penampilan ubin dinding itu terlihat sangat sederhana, tetapi justru hal itu yang membuatnya terkesan elegan. Saat ini, CArrelé tersedia dalam beberapa varian warna dan corak, seperti warna putih berpola segar namun abstrak, warna merah anggur bercorak khas, hitam yang memberikan kesan misterius serta elegan, dan juga warna krem yang menyoroti tekstur cangkang telur yang pecah.

Elaine bersama dengan tim saat ini tengah berupaya untuk mengembangkan koleksi CArrelé dengan menghadirkan koleksi furnitur lainnya, seperti baki dan penyangga tealight dalam waktu dekat. (sumber: liputan6)