Gulir ke bawah
Bisnis

Melihat PLTSa-Pelet Biomassa, Solusi Pengelolaan Sampah Kota

820
×

Melihat PLTSa-Pelet Biomassa, Solusi Pengelolaan Sampah Kota

Sebarkan artikel ini
Foto udara lapisan geomembran menutup hamparan lahan bekas timbunan sampah untuk menghasilkan metana pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Landfill Gas di Tempat Pembuangan Akhir Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/ Aji Styawan

PLN akan memanfaatkan sisa sampah dengan mengolahnya menjadi biomassa atau pelet dengan teknologi Refuse Derived Fuel, sebagai bahan baku untuk co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Pengelolaan sampah kerap menjadi masalah pelik di setiap kota. Khususnya di kota-kota dengan jumlah penduduknya besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Makassar, dan Surabaya.

Gulir ke Bawah
Selamat Membaca

Ketika sampah tidak diolah serta dikelola dengan baik, maka akan berdampak pencemaran lingkungan, polusi udara, hingga membahayakan jiwa. Tumpukan sampah bisa memicu ledakan gas metana. Seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Bandung, Jawa Barat, beberapa tahun silam.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, pada 2020, total produksi sampah nasional sudah mencapai 67,8 juta ton. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Atau setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2018 saja, produksi sampah nasional sudah mencapai 64 juta ton dari 267 juta penduduk. Lambat laun, timbunan sampah-sampah itu bisa menggunung di TPA jika saja tidak diolah.

Beberapa kota di Indonesia sudah menerapkan pola reuse, reduce, recycle (3R) dalam mengatasi masalah sampah. Kota Surabaya, Jawa Timur, merupakan salah satu daerah yang serius menerapkan tata kelola sampah. Sejak beberapa tahun terakhir, Pemkot Surabaya berhasil mengolah sampah menjadi energi listrik di TPA Benowo, Kelurahan Romokalisari, Kecamatan Benowo.

Sedikitnya 1.300-1.500 ton sampah per hari yang dikumpulkan dari masyarakat diolah di TPA Benowo. Lahan TPA seluas 37,4 hektare tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber energi maupun sirkular ekonomi untuk masyarakat setempat.

Sampai akhirnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan langsung instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, Romokalisari, Surabaya, Kamis (6/5/2021). PSEL di Surabaya ini adalah yang pertama beroperasi secara komersial dari tujuh kota yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) nomor 18 tahun 2016.

“Kecepatan bekerja Pemerintah Kota Surabaya patut kita acungi jempol sehingga ini selesai yang pertama,” ungkap Presiden Jokowi.

Tujuh kota yang masuk dalam Perpres nomor 18 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, dan Kota Makassar.

Kemudian perpres itu diubah menjadi Perpres nomor 35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Melalui perpres itu, jumlah kota yang ditunjuk menjadi 12 kota, dengan tambahan lima kota lainnya, yaitu Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kota Denpasar, Kota Palembang, dan Kota Manado.